tentu saja ! semua orang tua pasti sangat ambisius agar anaknya pintar!
kemudian bercerita pada orang tua yang lain atau teman-temannya dengan semangat mengatakan " anakku sudah bisa membaca loh, sudah pandai berhitung loh ! "
hihihihi, mungkin kalau saya yang mendengarnya, saya hanya akan tersenyum , dan berkata woow :)
dan ketika saya kedatangan seorang orang tua murid dan beliau berkata ,"bu, kok anak saya belum bisa membaca padahal tahun ini mau masuk SD?"
dan jawaban saya, "nanti juga bisa bu :)"
orang tua sekarang kadang menggerutu "sekolah kok hanya nyanyi-nyanyi, "keplok-keplok"(tepuk tangan), kalau hanya begitu dirumah juga bisa. gausah sekolah. banyak sekali orang tua yang belum mengerti arti pendidikan anak usia dini. hmmmm,,,,
begini, anak usia dini adalah anak umur 0-6 tahun.dan disebut masa "GOLDEN AGE" masa dimana anak mampu menyerap lebih banyak ilmu yang diberikan. pada sekolah pertama mereka PAUD "Pendidikan Anak Usia Dini" anak-anak belajar dengan bermain, bermain sambil belajar. jadi pada masa ini anak lebih banyak bermain sambil belajar. karna nanti pada masanya anak-anak itu akan dengn sendirinya mempunyai minat belajar membaca, berhitung, dan menulis.
namun tak sedikit pula Sekolah Dasar yang menggunaka tes CALISTUNG untuk masuk ke sekolah mereka.
sedikit saya kutip :
“Maaf Pak anak bapak belum bisa kami terima karena kemampuan baca tulis hitungnya masih kurang.”
“Sebentar, sejak kapan anak TK harus ikut tes formal dan harus bisa baca tulis ngitung?”
“Memang begitu Pak aturannya.”
“Aturan dari mana, boleh tahu?”
“Jaman sekarang anak mau SD memang harus bisa baca tulis hitung…”
tidak ingin memperpanjang masalah sebelum tahu akarnya. Betulkah hal ini sudah jadi ketentuan formal yang berlaku dalam sistem pendidikan Indonesia? Apakah praktik ini sah dan direstui dunia pendidikan anak? Atau saya saja yang terbelakang tidak tahu apa-apa?
Catatan:
Kalau seorang anak tidak mau menjawab sebuah pertanyaan, artinya ia
tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Atau, ada yang salah dengan
pertanyaan itu.
BACA-TULIS-HITUNG DAN ANAK PRA SEKOLAH
Sebelum lebih dalam membahas masalah ini, baiknya kita mulai dengan satu pertanyaan: Bolehkah?
Berikut aku kutip beberapa pernyataan:
“Kecerdasan
anak akan berkembang pesat melalui interaksi intensif dengan lingkungan
sekitar. Jika tidak ada interaksi, kecerdasan anak justru tidak akan
berkembang. Sementara, pengajaran calistung pada usia dini justru akan
semakin menjauhkan anak dari interaksi dengan lingkungan. Oleh karena
itulah, pengajaran calistung pada anak usia dini tidak diperbolehkan,”—Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional, Dr. Ace Suryadi. (http://paudcenter.info)
“Pengenalan
membaca, menulis, dan berhitung (calistung) tidak diperkenankan untuk
diajarkan secara langsung sebagai pembelajaran kepada para anak didik di
taman kanak-kanak. Calistung harus dalam kerangka pengembangan seluruh
aspek tumbuh kembang anak, dilakukan sambil bermain, dan disesuaikan
dengan tugas perkembangan anak. Selain itu, juga tidak dibenarkan siswa
TK dites dan diuji terlebih dulu untuk melanjutkan ke tingkat sekolah
dasar.”—Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Suyanto. (http://edukasi.kompas.com)
"Tidak
boleh ada calistung di TK kecuali diajarkan hanya pada tataran
pedagogis saja, dan tidak benar kalau ada sekolah yang memberikan tes.
Itu bukan praktik yang baik.”—Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Suyanto. (http://edukasi.kompas.com)
Bahkan,
menurut Dr. Ace Suryadi, di negara maju seperti Amerika Serikat dan
Australia, pengajaran calistung pada anak usia dini dilarang. “Hanya
Indonesia yang masih memperbolehkan dan justru bangga jika berhasil
mengajarkan calistung pada anak yang berusia di bawah 6 tahun.” (http://paudcenter.info)
“Masih
banyak implementasi proses pendidikan di Indonesia yang justru salah
kaprah. Orang tua bangga jika anaknya yang masih balita sudah pandai
calistung, Tidak sedikit sekolah dasar yang mensyaratkan agar calon
siswa yang mendaftar ke sekolah tersebut telah memiliki kemampuan
calistung yang baik. Bahkan, ada sekolah yang dengan terang-terangan
menolak calon siswa yang belum bisa calistung.”—Budayawan Jawa Barat, Popong Otje Djundjunan. (http://paudcenter.info)
Popong
menilai, hal itu merupakan kebijakan yang salah. Pasalnya, mengajarkan
anak untuk pandai membaca, menulis, dan berhitung sesungguhnya merupakan
tugas guru sekolah dasar, bukannya pendidik usia dini. “Saya
berharap, pemerintah segera melakukan tindakan tegas. Kalau bisa,
secepatnya menyebarkan surat edaran, yang isinya melarang sekolah dasar
memberlakukan syarat bisa calistung untuk calon siswa. Ini demi
memperbaiki sistem pendidikan nasional. Karena pada dasarnya kebijakan
untuk mengajarkan calistung pada anak usia dini tidak dibenarkan,” (http://paudcenter.info)
Prof Suyanto menekankan kalau aturan main untuk penerimaan SD sudah tertuang dalam Surat Edaran dari Dirjen Dikdasmen Nomor: 1839/C.C2/TU/2009
yang ditujukan kepada para gubernur dan bupati/walikota di seluruh
Indoensia. Surat edaran itu menyebutkan, bahwa kriteria calon peserta
didik SD/MI berusia sekurang-kurangnya 6 (enam) tahun, pengecualian
terhadap usia peserta didik yang kurang dari 6 (enam) tahun dilakukan
atas dasar rekomendasi tertulis dari pihak yang berkompeten, seperti
konselor sekolah/madrasah maupun psikolog. "Jadi, tidak ada
itu tes-tes masuk. Di situ kan sudah dijelaskan, bahwa masuk SD itu
ukurannya hanya usia, bukan kemampuan akademik melalui sebuah tes," (http://edukasi.kompas.com)
Kenapa justru usia? Kira-kira seperti ini konsekuensinya: “Jika
Anda memaksakan putra-putri Anda yang berumur kurang dari 6 tahun untuk
masuk SD, akibatnya mungkin tidak akan terlihat pada tahun-tahun
pertama, tetapi nanti pada tahun keempat. Mengapa ? Pada tahun pertama
dan kedua, pelajaran di SD lebih banyak menekankan pada baca, tulis dan
hitung; juga hal-hal yang konkrit dan ada di kehidupan sehari-hari.
Anak-anak usia 5-7 tahun tidak akan kesulitan menerimanya. Tetapi nanti
pada waktu mulai tahun keempat, pelajaran mereka akan sampai pada
hal-hal yang abstrak. Misal kalau matematika, sudah sampai ke menghitung
luas persegi, bahkan FPB (Faktor Persekutuan Besar); kalau IPA, sudah
sampai ke sistem tubuh manusia.
Nah,
hal-hal yang abstrak demikian pada umumnya baru bisa dicapai oleh
anak-anak usia 10 tahun. Dan ini tidak bisa dipaksakan, karena
menyangkut perkembangan otak. Seperti halnya memaksakan anak umur 6
bulan untuk berjalan. Kalaupun ada yang bisa, biasanya mereka adalah
anak-anak dengan IQ tinggi.”—Pengajar TK dan Homeschooling untuk anak tercintanya, Ibu Wiwin. (http://wiwinjournal.com/)
Ibu Wiwin juga menambahkan dalam blognya: “Saya
sesungguhnya tidak setuju kalau tes ini menjadi pertimbangan penentu
penerimaan murid SD. Saya lebih setuju jika tes ini hanya sebagai alat
untuk mengumpulkan data mana anak yang sudah bisa calistung dan mana
yang belum. Data itu nantinya akan berguna bagi guru dalam
mengelompokkan murid mana yang perlu perhatian lebih dalam belajar
membaca dan menulis. Anak yang saat SD belum bisa calistung, belum tentu
anak yang bodoh. Ia hanya anak yang terlambat belajar calistung. Jika
tidak ada masalah dalam perkembangan psikologinya, maka dalam waktu 6
bulan, dengan penanganan yang tepat, biasanya anak tersebut akan bisa
mengejar ketertinggalannya dengan teman-temannya.” (http://wiwinjournal.com/)
“Yang
diujikan semestinya bukanlah materi akademis atau calistung, melainkan
tes kemampuan dan konsep dasar. Ada kekeliruan, orang merasa anak harus
bisa calistung untuk masuk SD.”—Psikolog Anak, Roslina Verauli. (http://edukasi.kompas.com)
Roslina
menyarankan agar ada persamaan persepsi dulu di masyarakat, baik antara
pihak sekolah, pengajar, dan orang tua agar tidak terjadi kekhawatiran
yang ujung-ujungnya menekan si anak. . (http://edukasi.kompas.com)
Sejalan dengan kutipan-kutipan diatas, Kak Seto, lewat tulisannya di Koran Kompas menentang keras adanya ujian dan pengenalan baca tulis hitung yang diluar umur dan perkembangan psikologi anak.
bagaimana para orang tua ??
:D
masih ingin memaksa anak-anaknya mebaca, menulis, dan berhitung ??
kalau anak tidak ingin melakukannya sebaiknya jangan dipaksakan demi ambisi ya para orang tua yang cerdas.sebaliknya, jika anak tersebut melakukan dengan senang hati dan tanpa paksaan , boleh boleh saja :)
ketika anak-anak bernyanyi , secara tidak langsung mereka belajar tentang isi lagu tersebut dan belajar mengamalkannya jika orang tua juga ikut mendukung dan membantu :)
karena anak-anak akan lebih mudah mengingatnya dalam bentuk lagu dari pada hanya kata-kata saja.
jadi, jangan racuni anak-anak hebat kita dengan lagu "iwak peyek" dan sejenisnya yang belum waktunya mereka dengar ya ... dan pastikan juga lagu-lagu yang mereka dengar adalah lagu yang mendidik untuk mereka yaa ...
mari kita menjadi orang tua yang cerdas, dan mendidik anak-anak dengan cerdas pula :)
ini saya kasih alamat lagu anak-anak :)
http://istana-musik.blogspot.com/2008/07/kumpulan-lagu-anak-sepanjang-masa.html
sayang sekali yaa sekarang sudah jarang ada idola cilik ^_^
1 komentar:
Pendapat saya, anak2 harus pintar SEKALIGUS baik budi pekertinya. Sebagai orang dewasa, kita harus bisa menemukan pendekatan atau cara agar kurikulum calistung dapat diterima oleh anak usia dini tanpa mengorbankan hak bermainnya. Bukankah apapun bisa dijadikan permainan, termasuk calistung?
Untuk penanaman budi pekerti, seharusnya juga sama. Lakukan pendekatan yang menyenangkan (dongeng, dialog, bernyanyi dll). Justru dengan pendekatan yang sama, maka calistung dan penanaman budi pekerti dapat dilakukan secara bersamaan.
Jadilah orang tua yang peduli. Jangan mau diarahkan atau disuruh memilih mau anaknya pintar atau baik moralnya. HARUS keduanya. Pasti ada caranya. SUDAH ADA caranya. Tinggal sebagai orang tua mau tidak belajar lagi untuk kepentingan anak-anak kita.
www.bimbel-qubaca.com
Posting Komentar