Jumat, 09 November 2012
Kamis, 08 November 2012
Perempuan dan Laki-Laki Memang Beda, Tapi Tidak Untuk DiBedakan
PEREMPUAN DAN LAKI-LAKI MEMANG BEDA, TETAPI TIDAK UNTUK DIBEDAKAN
Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak
- Apa yang bisa dilakukan untuk menghapius KTPA : Membangun kesadaran bahwa persoalan KTPA adalah persoalan sosial, bukan persoalan individual dan merupakan pelanggaran hukum.
- Menorong korban agar berani melaporkan kasusnya terutama pada lembaga khusus yang dapat melakukan pendampingan korban.
- Membangun solidaritas untuk pereempuan dan anak di lingkungan masing-masing.
- Mendukung adanya peraturan, Undang undang yang berkaitan dengan Kekerasan terhadap perempuan dan perlindungan anak.
Apakah yang Disebut dengan Kekerasan Terhadap Perempuan
Yaitu setiap tindakan yang mengakibatkan pada kesengsaraan dan penderitaan perempuan secara psikologis (misalnya, marah tak beralasan, mengancam, selingkuh) secara fisik (memukul, melempar, menyudut rokok), seksual (memaksa hubungan sex dibawah ancaman meski istri sekalipun) pemaksaan atau perampasan kemerdekaan secarra sewenang-wenang yang terjadi di depan umum
(melarang perempuan keluar rumah) atau dalam lingkup kehidupan pribadi (melarang berbicara dan berpendapat) dan penelantaran ekonomi (tidak memberi nafkah )
(melarang perempuan keluar rumah) atau dalam lingkup kehidupan pribadi (melarang berbicara dan berpendapat) dan penelantaran ekonomi (tidak memberi nafkah )
Apa penyebab terjadinya kekerasan terhadap perempuan dan anak ??
pertama, Budaya patriarkhi yang menempatkan laki-laki sebagai superior dan perempuan sebagai makhluk interior.
kedua, pemahaman yang keliru terhadap ajaranagama, sehingga ada anggapan bahwa laki-laki boleh menguasai perempuan dan dapat bertindak sewenang-wenang karena laki-laki sebagai pemimpin.
ketiga, peniruan anak laki-laki yang suka melihat ayahnya melakukan kekerasan fisik
keempat, frustasi , putus asa, tak punya harapan,kebiasaan buruk, minum-minuman beralkohol dan narkoba, judi, kelainan jiwa
Mengapa Perempuan dan Anak Sering Menjadi Korban ?
- laki-laki secara fisik lebih kuat
- dalam masyarakat,sejak kanak-kanak laki-laki dibentuk untuk menggunakan kekuatan fisik
- perempuan dibesarkan dan dibentuk untuk bersikap lemah lembut dan banyak mengalah
- ketergantungan ekonomi memaksa perempuan untuk menerima penganiayaan dari orang- orang yang menjadi gantungan hidupnya.
Mengapa Korban Enggan Melapor ?
- takut terancam jiwanya
- takut kehilangan nafkah dari suami
- takut mencemarkan nama baik keluarga
- sikap yang lugu dan pasrah , ragu-ragu, malu, mudah tertekan apabila kasusnya dketahui hukum
- tidak tahu hak-nya sebagai perempuan yang juga merupakan bagian dari hak asasi manusia
Dampak KTPA
- gangguan fisik
- gangguan kesehatan reproduksi
- gangguan emosi dan perilaku
- UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 23 TAHUN 2004 TENTANG PENGHAPUSAN KEKERASAN DALAM RUMAH TANGGA, memberikan ancaman pidana penjara antara 4 bulan hingga 20 tahun kepada orang dalam lingkup rumah tangganya yang melakukan kekerasan fisik , psikis, seksual, dan penelantaran rumah tangga
- UNDANG UNDANG NO 23 TAHUN 2002 TENTANG PERLINDUNGAN ANAK
- KUHP PASAL 285
- KUHP PASAL 351-355
- KUHP PASAL 365
- PP NO 9 TAHUN1975 PASAL 19 JO PASAL 116
- PP NO 9 TAHUN 1975 PASAL 24 DAN KHI PASAL 136
Selasa, 06 November 2012
Foto Pree- Wedding cute ^_^
[Renungan] Karena Kamu adalah Tulang Rusuk-ku
Last Child feat. Giselle - Seluruh Nafas Ini Lyrics
lihatlah luka ini yang sakitnya abadi
yang terbalut hangatnya bekas pelukmu
aku tak akan lupa, tak akan pernah bisa
tentang apa yang harus memisahkan kita
saat ku tertatih tanpa kau di sini
kau tetap ku nanti demi keyakinan ini
jika memang dirimulah tulang rusukku
kau akan kembali pada tubuh ini
ku akan tua dan mati dalam pelukmu
untukmu seluruh nafas ini
kita telah lewati rasa yang telah mati
bukan hal baru bila kau tinggalkan aku
tanpa kita mencari jalan untuk kembali
takdir cinta yang menuntunmu kembali padaku
di saatku tertatih (saat ku tertatih)
tanpa kau di sini (tanpa kau di sini)
kau tetap ku nanti demi keyakinan ini
jika memang kau terlahir hanya untukku
bawalah hatiku dan lekas kembali
ku nikmati rindu yang datang membunuhku
untukmu seluruh nafas ini
dan ini yang terakhir aku menyakitimu
ini yang terakhir aku meninggalkanmu
takkan ku sia-siakan hidupmu lagi
ini yang terakhir dan ini yang terakhir
takkan ku sia-siakan hidupmu lagi
jika memang dirimulah tulang rusukku (terlahir untukku)
kau akan kembali pada tubuh ini (bawa hatiku kembali)
ku akan tua dan mati dalam pelukmu
untukmu seluruh nafas ini
jika memang kau terlahir hanya untukku
bawalah hatiku dan lekas kembali
ku nikmati rindu yang datang membunuhku
untukmu seluruh nafas ini, untukmu seluruh nafas ini
untukmu seluruh nafas ini
[Renungan] Karena Kamu adalah Tulang Rusuk-ku
Karena Kamu Tulang Rusukku
Sebuah senja yang sempurna, sepotong donat, dan lagu cinta yang lembut. Adakah yang lebih indah dari itu, bagi sepasang manusia yang memadu kasih? Raka dan Dara duduk di punggung senja itu, berpotong percakapan lewat, beratus tawa timpas, lalu Dara pun memulai meminta kepastian. ya, tentang cinta.
Dara : Siapa yang paling kamu cintai di dunia ini?
Raka : Kamu dong?
Dara : Menurut kamu, aku ini siapa?
Raka : (Berpikir sejenak, lalu menatap Dara dengan pasti) Kamu tulang rusukku! Ada tertulis, Tuhan melihat bahwa Adam kesepian. Saat Adam tidur, Tuhan mengambil rusuk dari Adam dan menciptakan Hawa. Semua pria mencari tulang rusuknya yang hilang dan saat menemukan wanita untuknya, tidak lagi merasakan sakit di hati.”
Setelah menikah, Dara dan Raka mengalami masa yang indah dan manis untuk sesaat. Setelah itu, pasangan muda ini mulai tenggelam dalam kesibukan masing-masing dan kepenatan hidup yang kain mendera. Hidup mereka menjadi membosankan. Kenyataan hidup yang kejam membuat mereka mulai menyisihkan impian dan cinta satu sama lain. Mereka mulai bertengkar dan pertengkaran itu mulai menjadi semakin panas. Pada suatu hari, pada akhir sebuah pertengkaran, Dara lari keluar rumah. Saat tiba di seberang jalan, dia berteriak,
“Kamu nggak cinta lagi sama aku!” Raka sangat membenci ketidakdewasaan Dara dan secara spontan balik berteriak,
“Aku menyesal kita menikah! Kamu ternyata bukan tulang rusukku!” Tiba-tiba Dara menjadi terdiam ,
Berdiri terpaku untuk beberapa saat. Matanya basah. Ia menatap Raka, seakan tak percaya pada apa yang telah dia dengar. Raka menyesal akan apa yang sudah dia ucapkan. Tetapi seperti air yang telah tertumpah, ucapan itu tidak mungkin untuk diambil kembali. Dengan berlinang air mata, Dara kembali ke rumah dan mengambil barang-barangnya, bertekad untuk berpisah. “Kalau aku bukan tulang rusukmu, biarkan aku pergi. Biarkan kita berpisah dan mencari pasangan sejati masing-masing.”
Lima tahun berlalu. Raka tidak menikah lagi, tetapi berusaha mencari tahu akan kehidupan Dara. Dara pernah ke luar negeri, menikah dengan orang asing, bercerai, dan kini kembali ke kota semula. Dan Raka yang tahu semua informasi tentang Dara, merasa kecewa, karena dia tak pernah diberi kesempatan untuk
kembali, Dara tak menunggunya. Dan di tengah malam yang sunyi, saat Raka meminum kopinya, ia merasakan ada yang sakit di dadanya. Tapi dia tidak sanggup mengakui bahwa dia merindukan Dara. Suatu hari, mereka akhirnya kembali bertemu. Di airport, di tempat ketika banyak terjadi pertemuan dan perpisahan, mereka dipisahkan hanya oleh sebuah dinding pembatas, mata mereka tak saling mau lepas.
Raka : Apa kabar?
Dara : Baik… ngg.., apakah kamu sudah menemukan rusukmu yang hilang?
Raka : Belum.
Dara : Aku terbang ke New York dengan penerbangan berikut.
Raka : Aku akan kembali 2 minggu lagi. Telpon aku kalau kamu sempat. Kamu tahu nomor telepon kita, belum ada yang berubah. Tidak akan ada yang berubah.
Dara tersenyum manis, lalu berlalu.
“Good bye….”
Seminggu kemudian, Raka mendengar bahwa Dara mengalami kecelakaan, mati. Malam itu, sekali lagi, Raka mereguk kopinya dan kembali merasakan sakit di dadanya. Akhirnya dia sadar bahwa sakit itu adalah karena Dara, tulang rusuknya sendiri, yang telah dengan bodohnya dia patahkan.
“Kita melampiaskan 99% kemarahan justru kepada orang yang paling kita cintai. Dan akibatnya seringkali adalah fatal”
Sabtu, 03 November 2012
PERSEPSI ORANG TUA TENTANG CALISTUNG UNTUK ANAK USIA DINI
Kebanyakan orang tua menginginkan anak-anaknya yang masih berusia dini tumbuh sebagai anak yang pandai berhitung, membaca, dan menulis walaupun usia anak mereka masih sangat dini.
tentu saja ! semua orang tua pasti sangat ambisius agar anaknya pintar!
kemudian bercerita pada orang tua yang lain atau teman-temannya dengan semangat mengatakan " anakku sudah bisa membaca loh, sudah pandai berhitung loh ! "
hihihihi, mungkin kalau saya yang mendengarnya, saya hanya akan tersenyum , dan berkata woow :)
dan ketika saya kedatangan seorang orang tua murid dan beliau berkata ,"bu, kok anak saya belum bisa membaca padahal tahun ini mau masuk SD?"
dan jawaban saya, "nanti juga bisa bu :)"
orang tua sekarang kadang menggerutu "sekolah kok hanya nyanyi-nyanyi, "keplok-keplok"(tepuk tangan), kalau hanya begitu dirumah juga bisa. gausah sekolah. banyak sekali orang tua yang belum mengerti arti pendidikan anak usia dini. hmmmm,,,,
begini, anak usia dini adalah anak umur 0-6 tahun.dan disebut masa "GOLDEN AGE" masa dimana anak mampu menyerap lebih banyak ilmu yang diberikan. pada sekolah pertama mereka PAUD "Pendidikan Anak Usia Dini" anak-anak belajar dengan bermain, bermain sambil belajar. jadi pada masa ini anak lebih banyak bermain sambil belajar. karna nanti pada masanya anak-anak itu akan dengn sendirinya mempunyai minat belajar membaca, berhitung, dan menulis.
namun tak sedikit pula Sekolah Dasar yang menggunaka tes CALISTUNG untuk masuk ke sekolah mereka.
sedikit saya kutip :
“Maaf Pak anak bapak belum bisa kami terima karena kemampuan baca tulis hitungnya masih kurang.”
tidak ingin memperpanjang masalah sebelum tahu akarnya. Betulkah hal ini sudah jadi ketentuan formal yang berlaku dalam sistem pendidikan Indonesia? Apakah praktik ini sah dan direstui dunia pendidikan anak? Atau saya saja yang terbelakang tidak tahu apa-apa?
Sejalan dengan kutipan-kutipan diatas, Kak Seto, lewat tulisannya di Koran Kompas menentang keras adanya ujian dan pengenalan baca tulis hitung yang diluar umur dan perkembangan psikologi anak.
bagaimana para orang tua ??
:D
masih ingin memaksa anak-anaknya mebaca, menulis, dan berhitung ??
kalau anak tidak ingin melakukannya sebaiknya jangan dipaksakan demi ambisi ya para orang tua yang cerdas.sebaliknya, jika anak tersebut melakukan dengan senang hati dan tanpa paksaan , boleh boleh saja :)
ketika anak-anak bernyanyi , secara tidak langsung mereka belajar tentang isi lagu tersebut dan belajar mengamalkannya jika orang tua juga ikut mendukung dan membantu :)
karena anak-anak akan lebih mudah mengingatnya dalam bentuk lagu dari pada hanya kata-kata saja.
jadi, jangan racuni anak-anak hebat kita dengan lagu "iwak peyek" dan sejenisnya yang belum waktunya mereka dengar ya ... dan pastikan juga lagu-lagu yang mereka dengar adalah lagu yang mendidik untuk mereka yaa ...
mari kita menjadi orang tua yang cerdas, dan mendidik anak-anak dengan cerdas pula :)
ini saya kasih alamat lagu anak-anak :)
tentu saja ! semua orang tua pasti sangat ambisius agar anaknya pintar!
kemudian bercerita pada orang tua yang lain atau teman-temannya dengan semangat mengatakan " anakku sudah bisa membaca loh, sudah pandai berhitung loh ! "
hihihihi, mungkin kalau saya yang mendengarnya, saya hanya akan tersenyum , dan berkata woow :)
dan ketika saya kedatangan seorang orang tua murid dan beliau berkata ,"bu, kok anak saya belum bisa membaca padahal tahun ini mau masuk SD?"
dan jawaban saya, "nanti juga bisa bu :)"
orang tua sekarang kadang menggerutu "sekolah kok hanya nyanyi-nyanyi, "keplok-keplok"(tepuk tangan), kalau hanya begitu dirumah juga bisa. gausah sekolah. banyak sekali orang tua yang belum mengerti arti pendidikan anak usia dini. hmmmm,,,,
begini, anak usia dini adalah anak umur 0-6 tahun.dan disebut masa "GOLDEN AGE" masa dimana anak mampu menyerap lebih banyak ilmu yang diberikan. pada sekolah pertama mereka PAUD "Pendidikan Anak Usia Dini" anak-anak belajar dengan bermain, bermain sambil belajar. jadi pada masa ini anak lebih banyak bermain sambil belajar. karna nanti pada masanya anak-anak itu akan dengn sendirinya mempunyai minat belajar membaca, berhitung, dan menulis.
namun tak sedikit pula Sekolah Dasar yang menggunaka tes CALISTUNG untuk masuk ke sekolah mereka.
sedikit saya kutip :
“Maaf Pak anak bapak belum bisa kami terima karena kemampuan baca tulis hitungnya masih kurang.”
“Sebentar, sejak kapan anak TK harus ikut tes formal dan harus bisa baca tulis ngitung?”
“Memang begitu Pak aturannya.”
“Aturan dari mana, boleh tahu?”
“Jaman sekarang anak mau SD memang harus bisa baca tulis hitung…”
tidak ingin memperpanjang masalah sebelum tahu akarnya. Betulkah hal ini sudah jadi ketentuan formal yang berlaku dalam sistem pendidikan Indonesia? Apakah praktik ini sah dan direstui dunia pendidikan anak? Atau saya saja yang terbelakang tidak tahu apa-apa?
Catatan:
Kalau seorang anak tidak mau menjawab sebuah pertanyaan, artinya ia
tidak nyaman dengan pertanyaan itu. Atau, ada yang salah dengan
pertanyaan itu.
BACA-TULIS-HITUNG DAN ANAK PRA SEKOLAH
Sebelum lebih dalam membahas masalah ini, baiknya kita mulai dengan satu pertanyaan: Bolehkah?
Berikut aku kutip beberapa pernyataan:
“Kecerdasan
anak akan berkembang pesat melalui interaksi intensif dengan lingkungan
sekitar. Jika tidak ada interaksi, kecerdasan anak justru tidak akan
berkembang. Sementara, pengajaran calistung pada usia dini justru akan
semakin menjauhkan anak dari interaksi dengan lingkungan. Oleh karena
itulah, pengajaran calistung pada anak usia dini tidak diperbolehkan,”—Direktur Jenderal Pendidikan Luar Sekolah Departemen Pendidikan Nasional, Dr. Ace Suryadi. (http://paudcenter.info)
“Pengenalan
membaca, menulis, dan berhitung (calistung) tidak diperkenankan untuk
diajarkan secara langsung sebagai pembelajaran kepada para anak didik di
taman kanak-kanak. Calistung harus dalam kerangka pengembangan seluruh
aspek tumbuh kembang anak, dilakukan sambil bermain, dan disesuaikan
dengan tugas perkembangan anak. Selain itu, juga tidak dibenarkan siswa
TK dites dan diuji terlebih dulu untuk melanjutkan ke tingkat sekolah
dasar.”—Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Suyanto. (http://edukasi.kompas.com)
"Tidak
boleh ada calistung di TK kecuali diajarkan hanya pada tataran
pedagogis saja, dan tidak benar kalau ada sekolah yang memberikan tes.
Itu bukan praktik yang baik.”—Direktur Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah Prof Suyanto. (http://edukasi.kompas.com)
Bahkan,
menurut Dr. Ace Suryadi, di negara maju seperti Amerika Serikat dan
Australia, pengajaran calistung pada anak usia dini dilarang. “Hanya
Indonesia yang masih memperbolehkan dan justru bangga jika berhasil
mengajarkan calistung pada anak yang berusia di bawah 6 tahun.” (http://paudcenter.info)
“Masih
banyak implementasi proses pendidikan di Indonesia yang justru salah
kaprah. Orang tua bangga jika anaknya yang masih balita sudah pandai
calistung, Tidak sedikit sekolah dasar yang mensyaratkan agar calon
siswa yang mendaftar ke sekolah tersebut telah memiliki kemampuan
calistung yang baik. Bahkan, ada sekolah yang dengan terang-terangan
menolak calon siswa yang belum bisa calistung.”—Budayawan Jawa Barat, Popong Otje Djundjunan. (http://paudcenter.info)
Popong
menilai, hal itu merupakan kebijakan yang salah. Pasalnya, mengajarkan
anak untuk pandai membaca, menulis, dan berhitung sesungguhnya merupakan
tugas guru sekolah dasar, bukannya pendidik usia dini. “Saya
berharap, pemerintah segera melakukan tindakan tegas. Kalau bisa,
secepatnya menyebarkan surat edaran, yang isinya melarang sekolah dasar
memberlakukan syarat bisa calistung untuk calon siswa. Ini demi
memperbaiki sistem pendidikan nasional. Karena pada dasarnya kebijakan
untuk mengajarkan calistung pada anak usia dini tidak dibenarkan,” (http://paudcenter.info)
Prof Suyanto menekankan kalau aturan main untuk penerimaan SD sudah tertuang dalam Surat Edaran dari Dirjen Dikdasmen Nomor: 1839/C.C2/TU/2009
yang ditujukan kepada para gubernur dan bupati/walikota di seluruh
Indoensia. Surat edaran itu menyebutkan, bahwa kriteria calon peserta
didik SD/MI berusia sekurang-kurangnya 6 (enam) tahun, pengecualian
terhadap usia peserta didik yang kurang dari 6 (enam) tahun dilakukan
atas dasar rekomendasi tertulis dari pihak yang berkompeten, seperti
konselor sekolah/madrasah maupun psikolog. "Jadi, tidak ada
itu tes-tes masuk. Di situ kan sudah dijelaskan, bahwa masuk SD itu
ukurannya hanya usia, bukan kemampuan akademik melalui sebuah tes," (http://edukasi.kompas.com)
Kenapa justru usia? Kira-kira seperti ini konsekuensinya: “Jika
Anda memaksakan putra-putri Anda yang berumur kurang dari 6 tahun untuk
masuk SD, akibatnya mungkin tidak akan terlihat pada tahun-tahun
pertama, tetapi nanti pada tahun keempat. Mengapa ? Pada tahun pertama
dan kedua, pelajaran di SD lebih banyak menekankan pada baca, tulis dan
hitung; juga hal-hal yang konkrit dan ada di kehidupan sehari-hari.
Anak-anak usia 5-7 tahun tidak akan kesulitan menerimanya. Tetapi nanti
pada waktu mulai tahun keempat, pelajaran mereka akan sampai pada
hal-hal yang abstrak. Misal kalau matematika, sudah sampai ke menghitung
luas persegi, bahkan FPB (Faktor Persekutuan Besar); kalau IPA, sudah
sampai ke sistem tubuh manusia.
Nah,
hal-hal yang abstrak demikian pada umumnya baru bisa dicapai oleh
anak-anak usia 10 tahun. Dan ini tidak bisa dipaksakan, karena
menyangkut perkembangan otak. Seperti halnya memaksakan anak umur 6
bulan untuk berjalan. Kalaupun ada yang bisa, biasanya mereka adalah
anak-anak dengan IQ tinggi.”—Pengajar TK dan Homeschooling untuk anak tercintanya, Ibu Wiwin. (http://wiwinjournal.com/)
Ibu Wiwin juga menambahkan dalam blognya: “Saya
sesungguhnya tidak setuju kalau tes ini menjadi pertimbangan penentu
penerimaan murid SD. Saya lebih setuju jika tes ini hanya sebagai alat
untuk mengumpulkan data mana anak yang sudah bisa calistung dan mana
yang belum. Data itu nantinya akan berguna bagi guru dalam
mengelompokkan murid mana yang perlu perhatian lebih dalam belajar
membaca dan menulis. Anak yang saat SD belum bisa calistung, belum tentu
anak yang bodoh. Ia hanya anak yang terlambat belajar calistung. Jika
tidak ada masalah dalam perkembangan psikologinya, maka dalam waktu 6
bulan, dengan penanganan yang tepat, biasanya anak tersebut akan bisa
mengejar ketertinggalannya dengan teman-temannya.” (http://wiwinjournal.com/)
“Yang
diujikan semestinya bukanlah materi akademis atau calistung, melainkan
tes kemampuan dan konsep dasar. Ada kekeliruan, orang merasa anak harus
bisa calistung untuk masuk SD.”—Psikolog Anak, Roslina Verauli. (http://edukasi.kompas.com)
Roslina
menyarankan agar ada persamaan persepsi dulu di masyarakat, baik antara
pihak sekolah, pengajar, dan orang tua agar tidak terjadi kekhawatiran
yang ujung-ujungnya menekan si anak. . (http://edukasi.kompas.com)
Sejalan dengan kutipan-kutipan diatas, Kak Seto, lewat tulisannya di Koran Kompas menentang keras adanya ujian dan pengenalan baca tulis hitung yang diluar umur dan perkembangan psikologi anak.
bagaimana para orang tua ??
:D
masih ingin memaksa anak-anaknya mebaca, menulis, dan berhitung ??
kalau anak tidak ingin melakukannya sebaiknya jangan dipaksakan demi ambisi ya para orang tua yang cerdas.sebaliknya, jika anak tersebut melakukan dengan senang hati dan tanpa paksaan , boleh boleh saja :)
ketika anak-anak bernyanyi , secara tidak langsung mereka belajar tentang isi lagu tersebut dan belajar mengamalkannya jika orang tua juga ikut mendukung dan membantu :)
karena anak-anak akan lebih mudah mengingatnya dalam bentuk lagu dari pada hanya kata-kata saja.
jadi, jangan racuni anak-anak hebat kita dengan lagu "iwak peyek" dan sejenisnya yang belum waktunya mereka dengar ya ... dan pastikan juga lagu-lagu yang mereka dengar adalah lagu yang mendidik untuk mereka yaa ...
mari kita menjadi orang tua yang cerdas, dan mendidik anak-anak dengan cerdas pula :)
ini saya kasih alamat lagu anak-anak :)
http://istana-musik.blogspot.com/2008/07/kumpulan-lagu-anak-sepanjang-masa.html
sayang sekali yaa sekarang sudah jarang ada idola cilik ^_^
Jumat, 02 November 2012
KENALI DISLEKSIA SEJAK DINI
Disleksia
Berasal dari kata Yunani, disleksia berarti 'kesulitan
dengan kata-kata'. Artinya, penderita ini memiliki kesulitan untuk mengenali
huruf atau kata. Hal itu terjadi karena kelemahan otak dalam memproses
informasi.
Akibatnya, anak yang menderita disleksia susah untuk
membaca, mengeja, menulis, hingga tak bisa mengerti masalah matematika. Ini
menyebabkan sang anak merasa malu dan tak percaya diri untuk hadir di antara
teman-teman di kelasnya. Peluang disleksia untuk dijumpai pada anak laki-laki
dan perempuan sama besarnya. Disleksia merupakan kelainan yang bisa diturunkan
ke generasi berikutnya.
Disleksia ditandai dengan adanya kesulitan membaca pada anak
maupun dewasa yang seharusnya menunjukkan kemampuan dan motivasi untuk membaca
secara fasih dan akurat. Disleksia merupakan salah satu masalah tersering yang
terjadi pada anak dan dewasa. angka kejadian di dunia berkisar 5-17% pada anak
usia sekolah. Disleksia adalah gangguan yang paling sering terjadi pada masalah
belajar. Kurang lebih 80% penderita gangguan belajar mengalami disleksia.
Disleksia (dyslexia) timbul karena masalah dalam proses
pengolahan informasi di otak, terutama pada bagian yang menjadi pusat bahasa.
Akibatnya, kemampuan anak dalam membaca dan menulis menjadi rendah.
Disleksia merupakan suatu kelainan yang sifatnya menurun.
Seorang anak yang memiliki orang tua dengan sejarah disleksia, kemungkinan
besar akan mengalami kesulitan yang sama dalam hal membaca dan menulis. Selain
itu, anak yang lambat belajar bicara saat usia prasekolah, juga berisiko tinggi
menderita disleksia.
Ciri-Ciri Disleksia
Pada Anak
Sebenarnya, gejala disleksia bisa dideteksi sejak anak berusia
dini, misalnya pada usia prasekolah atau sekolah dasar, dengan memperhatikan
beberapa ciri berikut ini:
·
Anak
mengalami kesulitan berbicara, serta mengucapkan kata-kata panjang secara
benar.
·
Kesulitan
mempelajari susunan alfabet, mengurutkan hari dalam seminggu, serta mengenali
warna, bentuk, dan angka.
- · Kesulitan mengenali dan melafalkan bunyi huruf.
- · Kesulitan dalam mengeja kata atau suku kata.
- · Tidak bisa membedakan antara kanan dengan kiri.
- · Sering menulis huruf atau angka secara terbalik.
- · Menemui kesulitan dalam pelajaran berhitung.
- · Kesulitan mengikuti instruksi yang terdiri atas beberapa langkah.
Tanda-tanda disleksia pada usia pra
sekolah antara lain:
- · Suka mencampur adukkan kata-kata dan frasa
- · Kesulitan mempelajari rima (pengulangan bunyi) dan ritme (irama)
- · Sulit mengingat nama atau sebuah obyek
- · Perkembangan kemampuan berbahasa yang terlambat
- · Senang dibacakan buku, tapi tak tertarik pada huruf atau kata-kata
- · Sulit untuk berpakaian
Pada anak usia
prasekolah, adanya riwayat keterlambatan berbahasa atau tidak tampaknya bunyi
dari suatu kata (kesulitan bermain kata-kata yang berirama, kebingungan dalam
menghadapi kata-kata yang mirip, kesulitan belajar mengenal huruf) disertai
dengan adanya riwayat keluarga yang menderita disleksia, menunjukkan faktor
risiko yang bermakna untuk menderita disleksia.
Tanda-tanda disleksia di usia sekolah
dasar:
- · Sulit membaca dan mengeja
- · Sering tertukar huruf dan angka
- · Sulit mengingat alfabet atau mempelajari tabel
- · Sulit mengerti tulisan yang ia baca
- · Lambat dalam menulis
- · Sulit konsentrasi
- · Susah membedakan kanan dan kiri, atau urutan hari dalam sepekan
- · Percaya diri yang rendah
- · Masih tetap kesulitan dalam berpakaian
Pada anak usia
sekolah biasanya keluhan berupa kurangnya tampilan di sekolah tetapi sering
orangtua dan guru tidak menyadari bahwa anak tersebut mengalami kesulitan
membaca. Biasanya anak akan terlihat terlambat berbicara, tidak belajar huruf
di taman kanak-kanak dan tidak belajar membaca pada sekolah dasar. Anak
tersebut akan makin tertinggal dalam hal pelajaran sedangkan guru dan orangtua
biasanya makin heran mengapa anak dengan tingkat kepandaian yang baik mengalami
kesulitan membaca.
Bila
seorang anak didiagnosa disleksia, ia harus mendapat dukungan ekstra di
sekolahnya dari seorang guru spesialis. Biasanya ini bisa dilakukan dengan
bantuan intens dalam pelajaran membaca dan menulis.Tapi disleksia tak harus
menghentikan anak-anak untuk terus belajar. Ia tak akan menimbulkan efek pada
intelijensinya, karena otak mereka bekerja dengan cara yang berbeda.Bahkan
beberapa penderita disleksia memiliki kreativitas yang tinggi, kemampuan
berbicara yang baik, pemikir inovatif atau pencari solusi yang intuitif.
- Berikan dukungan pada anak anda
·
Bacakan
buku dan bantu mereka saat hendak membaca buku sendiri
·
Untuk
usia pra sekolah, ajarkan rima, bermain game kata-kata dan puzzle juga akan
membantu.
·
Ajarkan
dan latih bersama bagaimana mengenakan pakaian
·
Jangan
memfokuskan pada kelemahannya, dukung kegiatan yang disenangi
·
Bantu
untuk mengerjakan PR
·
Tingkatkan
kepercayaan diri mereka
·
Berikan
suplemen minyak ikan yang mengandung omega-3 dan Omega-6 sehingga dapat
meningkatkan konsentrasinya saat membaca dan menulis
- Ajarkan Anak Anda
Jika anak Anda dalam tahap belum bisa membedakan mana
huruf-huruf yang mirip seperti b dan d, maka cara pengajaran yang perlu
dilakukan adalah mempelajari hurufnya satu persatu. Misalnya fokuskan
pengajaran kali ini pada huruf b. Tulislah huruf b dalam ukuran yang besar
kemudian mintalah anak untuk mengucapkan sembari tangannya mengikuti alur huruf
b atau membuat kode tertentu oleh tangan. Latihlah dan perkuatlah terus menerus
sampai ia bisa menguasainya, setelah itu mulailah beranjak ke huruf d.
Terdapat dua cara untuk mengajarkan anak membaca kata-kata:
melihat dan mendengar kata tersebut satu persatu. Buatlah kata yang dicetak
dalam ukuran besar misalnya ‘buku’, setelah itu kita ucapkan ‘buku’, lalu
mintalah anak mengulangi apa yang kita ucapkan yaitu ‘buku’. Tunjukanlah kata
tersebut terus menerus, tambahkanlah beberapa kata yang sudah ia ketahui,
hingga ia mengenali dan dapat mengucapkannya langsung begitu ia melihat kata
‘buku’.
Ada beberapa anak yang sudah bisa membaca namun ia memiliki
masalah dengan pemahaman (comprehension). Menurut Baumer (1996) ada beberapa
cara mengajar jika pemahaman anak Anda lemah:
1.
Memilih cerita yang menarik pada level dimana 98% ia bisa memahami kata-kata
dalam cerita tersebut. Mintalah ia untuk membacakan secara keras dan bilang
kepada kita apa yang telah ia baca.
2.
Jika anak tidak bisa melakukan ini, mintalah ia membaca tanpa bersuara,
berhenti setiap paragraph dan menceritakan kepada kita apa yang telah ia baca.
3.
Ketika pemahamannya berkembang, tambahkan jumlah paragraph yang ia baca hingga
ia bisa membaca dan paham keseluruhan halaman.
4.
Untuk membantu pemahamannya, Anda bisa memberikan arahan: menurutmu apa yang
dirasakan si tokoh? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana akhir
ceritanya?
Dalam mengajari anak disleksia, kita harus hati-hati untuk
tidak mengkritik terlalu jauh karena anak yang menderita disleksia rawan untuk
memiliki motivasi dan self-esteem yang jatuh. Ketika anak mulai menyadari ia
memiliki kesulitan dalam membaca dan ia sudah tertinggal jauh dari
teman-temannya, ia akan membenci pelajaran membaca dan langsung menyerah
(mogok) ketika menghadapi kata yang sulit. Aksi mogok ini bisa disiasati dengan
cara belajar membaca melalui minatnya. Misalnya pada anak yang memiliki minat
memasak, kita bisa mengajarkan membaca resep dan menyuruhnya memasak. Dari situ
kita melihat sejauh mana pemahamannya terhadap bacaan.
Mengajar membaca anak disleksia adalah proses yang tidak
mudah. Anak disleksia memiliki short term memory yang terbatas dan kosa kata
yang minim sehingga membutuhkan banyak penguatan. Variaskan metode melalui
permainan kata atau mengajak anak jalan-jalan sambil mengajari membaca
tulisan-tulisan yang ada. Dan hal yang terpenting dalam proses pembelajaran ini
adalah berilah apresiasi pada sekecil apapun perkembangannya.
Yang
dapat dilakukan orang tua di rumah adalah:
·
Usahakan
agar benar-benar aktif dalam mendampinginya dari waktu ke waktu. Penderita disleksia setiap saat akan
menemukan kesulitan-kesulitan. Dan bila kita biarkan mereka mencari jawabannya
sendiri,maka ketika menemukan kegagalan demi kegagalan,si penderita justru akan
menjadi semakin bodoh. Keadaan tersebut akan memperburuk penyimpangannya
.
·
Memberikan
dorongan sedemikian rupa untuk mengembalikan kepercayaan dirinya. Penderita disleksia akan cenderung
menghabiskan waktunya untuk mencari cara dalam usahanya untuk menguasai
sejumlah materi pelajaran seperti,membaca,menulis dan hitungan-hitungan.
Perjuangan ini hanya akan tetap bertahan apabila kepercayaan dirinya terus
terjaga
·
Buatlah
semenarik mungkin ketika mengajarinya membaca. Hampir semua anak penderita
disleksia tidak suka pelajaran membaca,karena membaca adalah pekerjaan yang
paling berat bagi dirinya. Carilah isi bacaan yang disukai oleh subjek,sehingga
hal tersebut akan menjadi menarik bagi subjek untuk terus mambacanya walaupun
sulit.
·
Berikan
model peran ,seperti orang-orang sukses yang disleksia. Model peran sangat penting
mereka untuk meningkatkan semangatnya, dan tidak selalu harus Albert Einstein,
karena mungkin itu terlalu kuno. Ambilah misalnya Orlando Bloom,Jackie Chan,Mc
Dreamy,Patrick Dempsey (ini adalah tokoh-tokoh pria sukses yang disleksia).
Untuk wanita bisa diberikan tokoh: Selma Hayek,Jewel,Whoopi Goldberg yang tentu
akan membangkitkan semangat dan harapan kesembuhan pada dirinya.
·
Bantu
mereka dengan teknologi yang membantu. Memberikan komputer saja untuk anak-anak disleksia
tidak akan sangat membantu. Berikan mereka software seperti Dragon Naturally
Speaking atau Kurzweil 3000 . Biarkan mereka belajar sampai ia benar-benar
menguasainya .
·
Gunakan
Metode Pendekatan Multi-Sensori. Wilson Reading System. Orton-Gillingham, dan Slingerland
Approach merupakan pendekatan pengajaran Multi-sensori. Mengajar mereka dengan
pendekatan multi-sensori akan sangat membantu proses recoverynya.Ke enam cara
ini bisa anda gunakan untuk bisa membantu mereka.
Bila
si kecil mengalami kesulitan membaca secara teknis, seperti sering
terbolak-balik membaca kata atau bingung dengan huruf yang bentuknya mirip,
Anda bisa membantunya dengan cara :
·
Mulailah
melatihnya dengan mengenalkan huruf, suku kata, lalu berlanjut dengan kata yang
terdiri dari dua suku kata, dan seterusnya. Anda juga bisa membuatkan huruf
dari lilin warna-warni agar ia lebih bersemangat untuk belajar.
·
Lakukan
metode dikte. Cobalah Anda mendiktekan suatu kata atau kalimat kepadanya dan
biarkan ia menuliskannya. Atau lakukan sebaliknya, biarkan si kecil mendikte
dan Anda yang menulis. Lalu minta ia membacakannya kembali.
·
Ajak
si kecil untuk membaca suatu wacana yang sumbernya bisa dari buku bacaan atau
buku cerita bergambar. Kemudian lakukan tanya-jawab mengenai wacana tersebut.
·
Berikan
tugas yang melatih rangsang visualnya.
Latihan Khusus Yang Bisa diberikan
Ajarkan Si Kecil Menulis
·
Sebagian
anak yang menderita disleksia memiliki tulisan yang kurang bagus. Ini
disebabkan kontrol motoriknya yang tidak berfungsi dengan baik. Langkah yang
bisa dilakukan antara lain:
·
Berikan
Ia sebuah buku bergambar dengan pola titik-titik. Ajarkan Ia untuk
menghubungkan titik-titik tersebut hingga menjadi sebuah gambar. Ini berfungsi
untuk melatih kemampuan motorik halusnya.
·
Latihlah
terus si kecil untuk menulis halus, berupa pola ataupun kalimat. Berikan pensil
yang tebal (misalnya pensil 2B) bila tekanan menulis si anak terlalu lemah dan
pensil yang tipis (pensil H) pada anak yang tekanan pada kertasnya terlalu
kuat.
Ajak Si Kecil Bermain angka dan Melatih Ingatan Untuk membantunya mengingat urutan
hari dalam satu minggu, bulan dalam satu tahun ataupun sejumlah deretan angka,
Anda bisa membantunya dengan cara berikut :
·
Jangan
pernah lupa untuk mengingatkan ia setiap hari tentang tanggal ataupun hari saat
ini.
·
Lakukan
permainan yang melatih kemampuannya dalam mengurutkan, seperti permainan
menyusun angka, kalimat dan sebagainya.
·
Di
waktu luang, mintalah ia menceritakan kembali secara berurutan suatu kejadian
yang Ia alami dalam satu hari atau sebuah film pendek yang baru saja
ditontonnya.
·
Bila
si kecil sulit memahami matematika, seperti salah menempatkan angka dan sulit
menghitung mundur atau memahami simbol. Gunakan kertas berpetak untuk melakukan
penjumlahan atau pengurangan. Ganti lambang-lambang yang sulit dimengerti
dengan istilah yang mudah dipahami.
Ajak Si kecil Untuk Memahami orientasi
Kesulitan
lain yang dialami anak disleksia adalah sering kali ragu memahami orientasi
ruang seperti kanan-kiri, depan-belakang, ataupun atas-bawah. Tak jarang pula
dari mereka yang tidak mengerti waktu dan tempat di mana mereka berada. Untuk
meningkatkan kemampuan orientasinya, langkah berikut bisa Anda terapkan:
·
Ajak
si kecil untuk mengikuti permainan baris-berbaris atau permainan “Pegang
telinga kiri dengan tangan kananmu!”. Ini berfungsi untuk melatih kemampuan
orientasinya
·
Jika
si kecil benar-benar sulit membedakan mana tangan kanan dan kiri, berilah tanda
seperti gelang pada salah satu tangannya.
- · Bacakan buku dan bantu mereka saat hendak membaca buku sendiri
- · Untuk usia pra sekolah, ajarkan rima, bermain game kata-kata dan puzzle juga akan membantu.
- · Ajarkan dan latih bersama bagaimana mengenakan pakaian
- · Jangan memfokuskan pada kelemahannya, dukung kegiatan yang disenangi
- · Bantu untuk mengerjakan PR
- · Tingkatkan kepercayaan diri mereka
PEOPLE WITH DISLEKSIA
Langganan:
Postingan (Atom)




























