Jumat, 02 November 2012

KENALI DISLEKSIA SEJAK DINI


Disleksia

 
Berasal dari kata Yunani, disleksia berarti 'kesulitan dengan kata-kata'. Artinya, penderita ini memiliki kesulitan untuk mengenali huruf atau kata. Hal itu terjadi karena kelemahan otak dalam memproses informasi.
Akibatnya, anak yang menderita disleksia susah untuk membaca, mengeja, menulis, hingga tak bisa mengerti masalah matematika. Ini menyebabkan sang anak merasa malu dan tak percaya diri untuk hadir di antara teman-teman di kelasnya. Peluang disleksia untuk dijumpai pada anak laki-laki dan perempuan sama besarnya. Disleksia merupakan kelainan yang bisa diturunkan ke generasi berikutnya.
Disleksia ditandai dengan adanya kesulitan membaca pada anak maupun dewasa yang seharusnya menunjukkan kemampuan dan motivasi untuk membaca secara fasih dan akurat. Disleksia merupakan salah satu masalah tersering yang terjadi pada anak dan dewasa. angka kejadian di dunia berkisar 5-17% pada anak usia sekolah. Disleksia adalah gangguan yang paling sering terjadi pada masalah belajar. Kurang lebih 80% penderita gangguan belajar mengalami disleksia.
Disleksia (dyslexia) timbul karena masalah dalam proses pengolahan informasi di otak, terutama pada bagian yang menjadi pusat bahasa. Akibatnya, kemampuan anak dalam membaca dan menulis menjadi rendah.
Disleksia merupakan suatu kelainan yang sifatnya menurun. Seorang anak yang memiliki orang tua dengan sejarah disleksia, kemungkinan besar akan mengalami kesulitan yang sama dalam hal membaca dan menulis. Selain itu, anak yang lambat belajar bicara saat usia prasekolah, juga berisiko tinggi menderita disleksia.

Ciri-Ciri Disleksia Pada Anak
Sebenarnya, gejala disleksia bisa dideteksi sejak anak berusia dini, misalnya pada usia prasekolah atau sekolah dasar, dengan memperhatikan beberapa ciri berikut ini:
·         Anak mengalami kesulitan berbicara, serta mengucapkan kata-kata panjang secara benar.
·         Kesulitan mempelajari susunan alfabet, mengurutkan hari dalam seminggu, serta mengenali warna, bentuk, dan angka.
  • ·         Kesulitan mengenali dan melafalkan bunyi huruf.
  • ·        Tidak mampu membaca dan menuliskan namanya sendiri.
  • ·         Kesulitan dalam mengeja kata atau suku kata.
  • ·         Tidak bisa membedakan antara kanan dengan kiri.
  • ·         Sering menulis huruf atau angka secara terbalik.
  • ·         Menemui kesulitan dalam pelajaran berhitung.
  • ·         Kesulitan mengikuti instruksi yang terdiri atas beberapa langkah.
Tanda-tanda disleksia pada usia pra sekolah antara lain:

  • ·         Suka mencampur adukkan kata-kata dan frasa
  • ·         Kesulitan mempelajari rima (pengulangan bunyi) dan ritme (irama)
  • ·         Sulit mengingat nama atau sebuah obyek
  • ·         Perkembangan kemampuan berbahasa yang terlambat
  • ·         Senang dibacakan buku, tapi tak tertarik pada huruf atau kata-kata
  • ·         Sulit untuk berpakaian
Pada anak usia prasekolah, adanya riwayat keterlambatan berbahasa atau tidak tampaknya bunyi dari suatu kata (kesulitan bermain kata-kata yang berirama, kebingungan dalam menghadapi kata-kata yang mirip, kesulitan belajar mengenal huruf) disertai dengan adanya riwayat keluarga yang menderita disleksia, menunjukkan faktor risiko yang bermakna untuk menderita disleksia.

Tanda-tanda disleksia di usia sekolah dasar:
  • ·         Sulit membaca dan mengeja
  • ·         Sering tertukar huruf dan angka
  • ·         Sulit mengingat alfabet atau mempelajari tabel
  • ·         Sulit mengerti tulisan yang ia baca
  • ·         Lambat dalam menulis
  • ·         Sulit konsentrasi
  • ·         Susah membedakan kanan dan kiri, atau urutan hari dalam sepekan
  • ·         Percaya diri yang rendah
  • ·         Masih tetap kesulitan dalam berpakaian
Pada anak usia sekolah biasanya keluhan berupa kurangnya tampilan di sekolah tetapi sering orangtua dan guru tidak menyadari bahwa anak tersebut mengalami kesulitan membaca. Biasanya anak akan terlihat terlambat berbicara, tidak belajar huruf di taman kanak-kanak dan tidak belajar membaca pada sekolah dasar. Anak tersebut akan makin tertinggal dalam hal pelajaran sedangkan guru dan orangtua biasanya makin heran mengapa anak dengan tingkat kepandaian yang baik mengalami kesulitan membaca.

 
Bila seorang anak didiagnosa disleksia, ia harus mendapat dukungan ekstra di sekolahnya dari seorang guru spesialis. Biasanya ini bisa dilakukan dengan bantuan intens dalam pelajaran membaca dan menulis.Tapi disleksia tak harus menghentikan anak-anak untuk terus belajar. Ia tak akan menimbulkan efek pada intelijensinya, karena otak mereka bekerja dengan cara yang berbeda.Bahkan beberapa penderita disleksia memiliki kreativitas yang tinggi, kemampuan berbicara yang baik, pemikir inovatif atau pencari solusi yang intuitif. 

  • Berikan dukungan pada anak anda
·         Bacakan buku dan bantu mereka saat hendak membaca buku sendiri
·         Untuk usia pra sekolah, ajarkan rima, bermain game kata-kata dan puzzle juga akan membantu.
·         Ajarkan dan latih bersama bagaimana mengenakan pakaian
·         Jangan memfokuskan pada kelemahannya, dukung kegiatan yang disenangi
·         Bantu untuk mengerjakan PR
·         Tingkatkan kepercayaan diri mereka
·         Berikan suplemen minyak ikan yang mengandung omega-3 dan Omega-6 sehingga dapat meningkatkan konsentrasinya saat membaca dan menulis 
  • Ajarkan Anak Anda
Jika anak Anda dalam tahap belum bisa membedakan mana huruf-huruf yang mirip seperti b dan d, maka cara pengajaran yang perlu dilakukan adalah mempelajari hurufnya satu persatu. Misalnya fokuskan pengajaran kali ini pada huruf b. Tulislah huruf b dalam ukuran yang besar kemudian mintalah anak untuk mengucapkan sembari tangannya mengikuti alur huruf b atau membuat kode tertentu oleh tangan. Latihlah dan perkuatlah terus menerus sampai ia bisa menguasainya, setelah itu mulailah beranjak ke huruf d.
Terdapat dua cara untuk mengajarkan anak membaca kata-kata: melihat dan mendengar kata tersebut satu persatu. Buatlah kata yang dicetak dalam ukuran besar misalnya ‘buku’, setelah itu kita ucapkan ‘buku’, lalu mintalah anak mengulangi apa yang kita ucapkan yaitu ‘buku’. Tunjukanlah kata tersebut terus menerus, tambahkanlah beberapa kata yang sudah ia ketahui, hingga ia mengenali dan dapat mengucapkannya langsung begitu ia melihat kata ‘buku’.
Ada beberapa anak yang sudah bisa membaca namun ia memiliki masalah dengan pemahaman (comprehension). Menurut Baumer (1996) ada beberapa cara mengajar jika pemahaman anak Anda lemah:
1. Memilih cerita yang menarik pada level dimana 98% ia bisa memahami kata-kata dalam cerita tersebut. Mintalah ia untuk membacakan secara keras dan bilang kepada kita apa yang telah ia baca.
2. Jika anak tidak bisa melakukan ini, mintalah ia membaca tanpa bersuara, berhenti setiap paragraph dan menceritakan kepada kita apa yang telah ia baca.
3. Ketika pemahamannya berkembang, tambahkan jumlah paragraph yang ia baca hingga ia bisa membaca dan paham keseluruhan halaman.
4. Untuk membantu pemahamannya, Anda bisa memberikan arahan: menurutmu apa yang dirasakan si tokoh? Apa yang akan terjadi selanjutnya? Bagaimana akhir ceritanya?
Dalam mengajari anak disleksia, kita harus hati-hati untuk tidak mengkritik terlalu jauh karena anak yang menderita disleksia rawan untuk memiliki motivasi dan self-esteem yang jatuh. Ketika anak mulai menyadari ia memiliki kesulitan dalam membaca dan ia sudah tertinggal jauh dari teman-temannya, ia akan membenci pelajaran membaca dan langsung menyerah (mogok) ketika menghadapi kata yang sulit. Aksi mogok ini bisa disiasati dengan cara belajar membaca melalui minatnya. Misalnya pada anak yang memiliki minat memasak, kita bisa mengajarkan membaca resep dan menyuruhnya memasak. Dari situ kita melihat sejauh mana pemahamannya terhadap bacaan.
Mengajar membaca anak disleksia adalah proses yang tidak mudah. Anak disleksia memiliki short term memory yang terbatas dan kosa kata yang minim sehingga membutuhkan banyak penguatan. Variaskan metode melalui permainan kata atau mengajak anak jalan-jalan sambil mengajari membaca tulisan-tulisan yang ada. Dan hal yang terpenting dalam proses pembelajaran ini adalah berilah apresiasi pada sekecil apapun perkembangannya.

Yang dapat dilakukan orang tua di rumah adalah:

·         Usahakan agar benar-benar aktif dalam mendampinginya dari waktu ke waktu. Penderita disleksia setiap saat akan menemukan kesulitan-kesulitan. Dan bila kita biarkan mereka mencari jawabannya sendiri,maka ketika menemukan kegagalan demi kegagalan,si penderita justru akan menjadi semakin bodoh. Keadaan tersebut akan memperburuk penyimpangannya
.
·         Memberikan dorongan sedemikian rupa untuk mengembalikan kepercayaan dirinya. Penderita disleksia akan cenderung  menghabiskan waktunya untuk mencari cara dalam usahanya untuk menguasai sejumlah materi pelajaran seperti,membaca,menulis dan hitungan-hitungan. Perjuangan ini hanya akan tetap bertahan apabila kepercayaan dirinya terus terjaga

·         Buatlah semenarik mungkin ketika mengajarinya membaca. Hampir semua anak penderita disleksia tidak suka pelajaran membaca,karena membaca adalah pekerjaan yang paling berat bagi dirinya. Carilah isi bacaan yang disukai oleh subjek,sehingga hal tersebut akan menjadi menarik bagi subjek untuk terus mambacanya walaupun sulit.

·         Berikan model peran ,seperti orang-orang sukses yang disleksia. Model peran  sangat penting mereka untuk meningkatkan semangatnya, dan tidak selalu harus Albert Einstein, karena mungkin itu terlalu kuno. Ambilah misalnya Orlando Bloom,Jackie Chan,Mc Dreamy,Patrick Dempsey (ini adalah tokoh-tokoh pria sukses yang disleksia). Untuk wanita bisa diberikan tokoh: Selma Hayek,Jewel,Whoopi Goldberg yang tentu akan membangkitkan semangat dan harapan kesembuhan pada dirinya.

·         Bantu mereka dengan teknologi  yang membantu. Memberikan komputer saja untuk anak-anak disleksia  tidak akan sangat membantu. Berikan mereka software seperti Dragon Naturally Speaking atau Kurzweil 3000 . Biarkan mereka belajar sampai ia benar-benar menguasainya .

·         Gunakan Metode Pendekatan Multi-Sensori. Wilson Reading System. Orton-Gillingham, dan Slingerland Approach merupakan pendekatan pengajaran Multi-sensori. Mengajar mereka dengan pendekatan multi-sensori akan sangat membantu proses recoverynya.Ke enam cara ini bisa anda gunakan untuk bisa membantu mereka.
Bila si kecil mengalami kesulitan membaca secara teknis, seperti sering terbolak-balik membaca kata atau bingung dengan huruf yang bentuknya mirip, Anda bisa membantunya dengan cara :
·         Mulailah melatihnya dengan mengenalkan huruf, suku kata, lalu berlanjut dengan kata yang terdiri dari dua suku kata, dan seterusnya. Anda juga bisa membuatkan huruf dari lilin warna-warni agar ia lebih bersemangat untuk belajar.
·         Lakukan metode dikte. Cobalah Anda mendiktekan suatu kata atau kalimat kepadanya dan biarkan ia menuliskannya. Atau lakukan sebaliknya, biarkan si kecil mendikte dan Anda yang menulis. Lalu minta ia membacakannya kembali.
·         Ajak si kecil untuk membaca suatu wacana yang sumbernya bisa dari buku bacaan atau buku cerita bergambar. Kemudian lakukan tanya-jawab mengenai wacana tersebut.
·         Berikan tugas yang melatih rangsang visualnya.

Latihan Khusus Yang Bisa diberikan
Ajarkan Si Kecil Menulis
·         Sebagian anak yang menderita disleksia memiliki tulisan yang kurang bagus. Ini disebabkan kontrol motoriknya yang tidak berfungsi dengan baik. Langkah yang bisa dilakukan antara lain:
·         Berikan Ia sebuah buku bergambar dengan pola titik-titik. Ajarkan Ia untuk menghubungkan titik-titik tersebut hingga menjadi sebuah gambar. Ini berfungsi untuk melatih kemampuan motorik halusnya.
·         Latihlah terus si kecil untuk menulis halus, berupa pola ataupun kalimat. Berikan pensil yang tebal (misalnya pensil 2B) bila tekanan menulis si anak terlalu lemah dan pensil yang tipis (pensil H) pada anak yang tekanan pada kertasnya terlalu kuat.

Ajak Si Kecil Bermain angka dan Melatih Ingatan Untuk membantunya mengingat urutan hari dalam satu minggu, bulan dalam satu tahun ataupun sejumlah deretan angka, Anda bisa membantunya dengan cara berikut :
·         Jangan pernah lupa untuk mengingatkan ia setiap hari tentang tanggal ataupun hari saat ini.
·         Lakukan permainan yang melatih kemampuannya dalam mengurutkan, seperti permainan menyusun angka, kalimat dan sebagainya.
·         Di waktu luang, mintalah ia menceritakan kembali secara berurutan suatu kejadian yang Ia alami dalam satu hari atau sebuah film pendek yang baru saja ditontonnya.
·         Bila si kecil sulit memahami matematika, seperti salah menempatkan angka dan sulit menghitung mundur atau memahami simbol. Gunakan kertas berpetak untuk melakukan penjumlahan atau pengurangan. Ganti lambang-lambang yang sulit dimengerti dengan istilah yang mudah dipahami.

Ajak Si kecil Untuk Memahami orientasi
Kesulitan lain yang dialami anak disleksia adalah sering kali ragu memahami orientasi ruang seperti kanan-kiri, depan-belakang, ataupun atas-bawah. Tak jarang pula dari mereka yang tidak mengerti waktu dan tempat di mana mereka berada. Untuk meningkatkan kemampuan orientasinya, langkah berikut bisa Anda terapkan:
·         Ajak si kecil untuk mengikuti permainan baris-berbaris atau permainan “Pegang telinga kiri dengan tangan kananmu!”. Ini berfungsi untuk melatih kemampuan orientasinya
·         Jika si kecil benar-benar sulit membedakan mana tangan kanan dan kiri, berilah tanda seperti gelang pada salah satu tangannya.
  • ·         Bacakan buku dan bantu mereka saat hendak membaca buku sendiri
  • ·         Untuk usia pra sekolah, ajarkan rima, bermain game kata-kata dan puzzle juga akan membantu.
  • ·         Ajarkan dan latih bersama bagaimana mengenakan pakaian
  • ·         Jangan memfokuskan pada kelemahannya, dukung kegiatan yang disenangi
  • ·         Bantu untuk mengerjakan PR
  • ·         Tingkatkan kepercayaan diri mereka 

PEOPLE WITH DISLEKSIA 




Tidak ada komentar: